diceritakan dari sudut pandang wired-earphone.


aku mengenal yovan jehansyah hampir sepanjang aku mengerti. yoje yang kukenal adalah yoje yang teliti. setiap keputusan selalu dia pertimbangkan dengan hati-hati. yoje yang kukenal menyukai lagu-lagu balada atau rnb. yoje yang kukenal enggak pernah banyak bicara dan lebih senang menjadi pemerhati.

hidupku secara penuh cuma mengorbit pada yoje. hariku banyak dihabiskan bersama yoje. aku kenal teman-teman yoje dengan baik. aku tahu siapa dosen yang paling dia sukai atau mata kuliah yang paling dia benci.

tanpa aku, hidup yoje bisa sengsara. seenggaknya begitu yang kudengar waktu dia sedang bercakap-cakap bersama teman-temannya. bagi yoje aku adalah belahan jiwa. yoje kepalang berlebihan, begitu kalau kata teman-teman yoje, yang kalau dihitung berhenti sampai angka dua. meski begitu, aku tahu kalau yoje menghargai ekstensiku sedemikian rupa. pemuda itu adalah satu dari sekian orang yang masih mau menjadikanku sebagai temannya.

yoje enggak suka berbagi aku. aku diam-diam senang diposesifi begitu. aku cuma buat yoje dan yoje cuma buatku. yoje juga enggak bisa kehilanganku. kata dia, bisa kiamat kalau aku enggak bersamanya saat dia berada di luar rumah atau saat mengerjakan tugas kuliah atau … pokoknya dia enggak bisa hidup tanpa aku.

kupikir hubungan kami akan selamanya begitu. sampai pemuda anomali bernama andova kamalio muncul secara enggak lucu.

yoje bertemu dova di perpustakaan saat tengah mengerjakan tugas statistika yang semestinya dikerjakan bersama teman-teman kelompoknya itu. dari semenjak bokongnya dan kursi menyatu hingga playlist di telinganya looping lagi ke track nomor satu, yoje enggak berhenti bergerutu, mengundang kekehan kecil dari seorang laki-laki yang berada di kursi sudut.

“sibuk sibuk tai kucing, emang dikira gue juga gak sibuk apa?” sungut yoje kecil, sementara tangannya sibuk mencoret-coret di buku.

seperti yang sudah kubilang sebelumnya, yoje adalah pribadi yang teliti. kecerobohannya bisa dihitung jari. tapi kayaknya hari itu adalah eksepsi. yoje meninggalkanku tergeletak di atas meja, sebab beberapa menit sebelumnya ia mendapat pesan darurat entah dari siapa. enggak cuma aku yang tertinggal di sana, ada buku catatan kuliahnya dan dua permen mint yang sengaja ia siapkan supaya enggak mengantuk selama mengerjakan.

andova, yang memang menaruh perhatian pada yoje sedari awal kedatangannya, menjadi (menyebalkannya) penyelamat yoje. hari itu dan dua hari berikutnya aku dan segenap barang-barang yoje yang lain berakhir di tas ransel andova. sebetulnya ia sempat menunggu hingga perpustakaan tutup, barangkali yoje akan kembali menjemput, tapi hasilnya nol absolut. alhasil dia putuskan untuk mengamankan kami di dalam tasnya yang bertabur permen cokelat berbungkus-bungkus.

“zaman sekarang ternyata masih ada ya yang pake earphone kabel.” adalah gumaman andova waktu pertama kali menemukanku. jujur aku enggak suka mendengar orang yang seolah menganggap aku dan kaumku seusia dinosaurus yang statusnya sudah punah dilahap waktu. tentu aja masih ada yang pakai aku! benda-benda nirkabel itu mana bisa dipakai seminggu penuh tanpa perlu diisi daya setiap waktu tertentu! kata yoje, fitur kabel yang kumiliki malah kelihatan lebih seksi dibandingkan para nirkabel itu. aku enggak paham makna seksi yang yoje maksud, tapi aku percaya apa yang yoje katakan adalah pujian. aku menghantarkan suara terbaikku untuk yoje sebagai balasan.

aku enggak tahu gimana caranya andova bisa menghubungi yoje hingga menginisiasi pertemuan kedua mereka. aku juga cukup sangsi dia tahu nama yoje, sebab kinan (satu dari dua teman yang yoje miliki) pernah bilang yoje dan dirinya enggak lebih dari sekumpulan karakter sekunder di kampus.

yoyo, yang waktu itu mendengarnya, enggak terima dan melayangkan protes, “mana ada! kalian tuh karakter utama di kehidupan kalian sendiri, di kehidupan gue!” lagaknya lebay kayak karakter anime olahraga yang mau tanding di piala dunia, begitu kata kinan.

dan omong-omong soal dunia, dunia memang kayaknya cuma seluas daun kelor (aku tahu frasa itu dari yoyo, teman nomor dua yoje). soalnya beberapa hari berikutnya aku belajar kalau andova, mengejutkannya, kenal baik dengan yoyo yang ternyata nama aslinya yonathan itu. mereka satu fakultas dan kebetulan sedang berada dalam satu kepanitiaan yang sama.

sorry kalo lu gak nyaman, gue dapet nomor lu dari yonathan. by the way, salam kenal, ya, gue andova.” pada percakapan telepon pertama mereka, andova pernah bilang begitu.

aku enggak mendengar apa balasan yoje selanjutnya, karena andova enggak mengaktifkan mode pengeras suara—seperti sengaja supaya aku enggak turut serta. andova banyak tertawa sepanjang 3 menit percakapan telepon mereka. berjanjian akan menemui yoje di perpustakaan esok sore pukul tiga, aku ikut lega. akhirnya aku dan yoje akan berjumpa!

andova sampai di perpustakaan satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. mengeluarkan aku dan yang lainnya, pemuda itu berulang kali menarik sudut bibirnya ke kiri dan ke kanan. andova juga acap mematut wajahnya setiap lima menit sekali melalui kamera depan ponselnya.